Monday, 10 November 2014

Review Carrier Consina Explorer 75+10

Connsina Explorer warna biru

Consina Explorer warna oranye

Tampak belakang dari Consina Explorer. Lapisan tebal sponnya membuatnya nyaman di punggung.



Carrier Consina Expedition dengan kapasitas 75+5 liter adalah carrier pertama saya. Sebenarnya yang saya ingin punya adalah consina explorer yang kapasitasnya 75+10 liter. Berhubung saat saya berburu explorer di surabaya sudah langka, “terpaksa” pilihan saya jatuh pada expedition yang merupakan saudara kembarnya.
Saat pake consina explorer dalam pendakian ceria ke Arjuno 23-27 Juni 2014.
          Memburu explorer bukanlah tanpa alasan. Sekitar akhir Juni 2014, saya menyapa gunung arjuno di Malang perbatasan Pasuruan. Carrier yang saya gunakan saat itu adalah consina explorer milik senior saya. Dengan kapasitas yang besar, sangat memudahkan perjalanan karena tidak perlu menambah daypack lagi. Apalagi jumlah tim saya saat itu hanya 4 orang, dengan 2 diantaranya cewek yang baru pertama naik gunung. Jadilah saya dan teman saya satunya lagi jadi “porter bayangan”.
          Consina Explorer memiliki bahan yang kuat dengan tigkat kenyamanan yang tinggi. Bahkan dengan packing yang kurang tepat, Consina Explorer mampu mengaturnya sehingga tetap terasa merata di pundak pemakainya. Menurut beberapa teman, kemampuan seperti itu jarang dimiliki oleh carrier jenis lain. Selain itu, lapisan spon pada bagian yang menempel pundak dan punggung cukup tebal dan empuk. Hal itu membuat punggung nyaman dan tidak menimbulkan sakit yang berlebih. Bahkan beban terasa lebih ringan dari yang sebenarnya. Besi penopang dibelakangnya kuat dan mudah buat dibetulkan saat bengkok. Dengan kenyamanan yang diberikan, Consina Explorer yang dibandrol Rp.650.000,- menjadi incaran pendaki gunung yang mencari kapasitas besar, nyaman, dan cukup bersahabat dengan dompet.
          Dari semua kelebihan yang dimiliki, sayangnya Consina Explorer belum dilengkapi sistem sirkulasi udara yang mumpuni. Hanya ada beberapa jarak spon yang menjadi jalan udara. Hal itu membuat punggung basah keringat karena tidak kena angin. Selain itu, raincover tidak disediakan daam satu paket, sehingga harus membeli dengan menambah biaya lagi.

Friday, 4 July 2014

Menuju Puncak Arjuno

          Wah sudah jam 2 pagi! Kami segera berangkat menuju puncak. Sendirian di Lembah Kijang memang agak menyeramkan. Tempatnya yang berada di lembah dekat dengan sumber air bisa saja didatangi binatang yang mencari minum.
          Perjalanan malam di medan yang belum kami kenal cukup membangun adrenalin. Hanya ada jalan setapak dengan pita – pita kecil sebagai penunjuk bahwa jalan yang kami lewati menuju arah yang benar. Beberapa kali kehilangan petunjuk, kami sempat tersesat menuju jalan buntu. Segera kami putar balik dan mencari penunjuknya lagi. Sekitar satu jam, kami sampai di Pasar Dieng. Jangan tertipu dengan namanya. Ini bukan pasar seperti pada umumnya. Konon, Pasar Dieng adalah pasar dunia halus dan hanya orang-orang tertentu yang merasakan keramaiannya.
          Menghindari pikiran yang semakin memburuk, saya mengajak tim untuk bergegas melanjutkan perjalanan. Beruntung anggota tim tidak membaca tulisan Pasar Dieng tadi sehingga tidak ada yang ketakutan selain saya. Hoho.
          1 jam berikutnya kami sampai di persimpangan jalan menuju Welirang dan menuju Arjuno. Kami memilih jalur kiri karena mengarah ke Arjuno. Perjalan semakin seru. Karena melintasi semak bekas hujan, pakaian kami mulai basah. Inilah pendaki pemula. Tidak memiliki pakaian yang tidak menyerap air, sehingga baju kami basah menyerap air sisa-sisa hujan dan embun.
          Dinginnya angin shubuh yang mengenai pakaian basah membuat mental saya kendor. Berulang kali saya berniat turun dan kembali saja ke tenda dari ada mati konyol kedinginan didalam hutan. Namun entah kenapa teman-teman begitu ingin mencapai puncak. Dengan semangat teman-teman yang menjalar padaku, kami sampai di bukit pertama sekitar pukul 6:30. Masih ada 2 bukit lagi tapi cuaca memburuk kembali. Angin bertiup kencang dan menutup pandangan kami ke arah puncak. Angin kencang yang bertiup membawa air yang cukup banyak dan membuta baju kami semakin basah. Setelah menunggu 15 menit dan tidak kunjung membaik, saya memutuskan memaksa mereka turun saja. Kami segera turun dengan sedikit ragu dan kecewa, karena tadinya puncaknya sudah terlihat namun hilang ditelan kabut kencang.
          30 menit turun, kami melihat puncak kembali terang. Sempat galau beberapa saat, kami berunding kembali keatas atau tidak. Setelah berunding keras, kami memutuskan kembali keatas. Dari bukit pertama yang puncak aslinya sudah terlihat, ternyata perjalanan masih jauh. Kami segera bergegas menuju puncak sebelum semua semakin memburuk.
          Yeah! Kami sampai puncak pukul 9 lebih. Segera kami berfoto ditolong oleh rombongan lain yang melewati jalur pendakian Lawang dan Purwosari. Kami juga sempat mendapat jamuan berupa segelas kopi dari temen-temen IKAMI Sul-Sel.
          Setelah puas berfoto dan menghabiskan kopi panas (yang tidak terasa panasnya) kami memutuskan untuk turun.
          Begitu Alhamdulillah banget deh pokoknya :).



Ini nih IKAMI Sul-Sel yang ngasih kami kopi :)

Konon, di batu ini tempat Arjuna dulu bertapa




saya

Ayub, saya, Yurike, Duwi

duwi

yurike
Segarnya esteh di puncak gunung
ayub
aku gak paham ini apa, aku foto aja :D


Arjuno - Welirang, kami datang!


          Halo kawan dimanapun Anda berada. Selamat membaca blog amatir saya ini J. Post ini akan berisi perjalananku ke gunung Arjuno pada 24-27 Juni 2014 kemarin. Oke, perkenalkan dulu teman-temanku pada trip kali ini. Namanya Duwi, Yurike, Ayub. Semuanya teman kuliahku. Duwi dan Yurike duo cewek yang pengen muncak. Mereka juga yang mengajakku dan Ayub. Katanya, mereka penasaran sama sunrise dari atas gunung. Aku dan Ayub hanya menemani mereka berdua.
Ayub, Yurike, Duwi
          Tujuan pendakian kami kali ini adalah Arjuno – Welirang dengan asumsi perjalanan selama 4 hari.
          Jauh hari sebelumnya, kami merencanakan berangkat 8 orang. Namun 4 teman kami yang lain gagal berangkat karena suatu hal. Jadilah kami cuma berempat.
          Tanggal 24 Juni pagi, kami kumpul di depan kos saya sekitar pukul 05:30. Kami memutuskan memarkir motor di Purabaya dan melanjutkan perjalanan dengan Bis dengan pertimbangan pulangnya bisa sambil istirahat di Bis. Sekitar pukul 06:00 kami sampai di Terminal Purabaya (lebih dikenal terminal Bungurasih karena terletak di desa Bungurasih, Waru, Sidoarjo). Setelah memarkir motor, kami segera mencari Bis menuju Malang. Sekitar pukul 08:03 kami turun di Terminal Pandaan. Biaya bis Surabaya-Pandaan 7 ribu tiap orang. Selanjutnya kami mencari angdes menuju Tretes. Karena sepi penumpang, angdes baru berangkat sekitar pukul 09:18. Sopir langsung membawa kami ke pos perizinan pendakian yang ada di seberang Hotel Tanjung, Tretes. Sesampainya di pos perizinan, saya menyerahkan ktp dan mengisi buku pengunjung. Untuk 4 orang, kami dikenai biaya sebesar 30 ribu rupiah termasuk asuransi.
          Setelah melakukan perizinan, kami bersiap melanjutkan perjalanan. Bersama dengan kami ada 3 siswa SMA 15 Surabaya yang juga berencana ke Arjuno – Welirang. Dari pos perizinan, jalur langsung menanjak. Yurike dan Duwi yang baru oertama naik gunung langsung kecapekan. Maka kami berjalan pelan dan banyak istirahatnya. Secara alami kami ditinggal 3 anak SMA tadi.
          Lebih dari 1 jam kami sampai di pos pertama namanya Pet Bocor. Disebut Pet Bocor karena memang ada pet (pipa PDAM) yang bocor disekitar situ. Sekitar 30 menit istirahat, kami melanjutkan perjalanan lagi. Pos selanjutnya adalah Kokopan. Normalnya, Pet Bocor menuju Kokopan ditempuh 3-4 jam. Tapi kami menempuhnya dalam 6 jam. Sekitar jam 4 sore kami baru sampai Kokopan. Setelah berunding dan mendapat saran dari pendaki lain yang ada disitu, kami memutuskan menginap dulu di Kokopan dan hanya menuju Arjuno. Keinginan menuju Welirang saya hapuskan karena memang fisik tim ini tak mampu. Biar bagaimanapun, tim harus diutamakan. Bila ada yang tak kuat, ya istirahat. Begitulah yang aku tahu tentang tim naik gunung.
Sambil istirahat narsis dulu lah..
          Ternyata malam di Kokopan begitu indah. Terlihat kerlap-kerlip lampu kota Pasuruan dan sekitarnya. Terlihat juga gunung Penanggungan dengan bukit bayangannya.
Puncak gunung Penanggungan dari Kokopan
          Esoknya, jam 9 pagi kami berangkat menuju pos selanjutnya, Pondokan. Disebut Pondokan karena disana banyak pondok para penambang belerang dari gunung Welirang.
          Perjalanan dari Kokopan ke Pondokan tidak kalah sulitnya dengan dari Pet Bocor. Keseluruhan jalur adalah jalan Hartop pengangkut belerang yang lebih mirip dengan kendaraan Off Road. 4 jam berjalan, kami mendapat tumpangan dari seorang pengemudi Hartop. Bersyukur kami mendapat tumpangan, karena ternyata perjalanan memang masih jauh. Sebagai tanda terimakasih, kami memberi uang pada pengemudi baik hati tersebut. Namun pemuda itu benar-benar baik hati. Ia menolak uang pemberian kami. Entah kurang banyak atau gimana saya kurang paham. Yang jelas saya sangat berterimakasih padanya. Pemuda baik hati itu mengendarai Hartop berwarna Biru. Kalau kamu bertemu, sampaikan terimakasihku padanya.
          Karena kami menuju Arjuno, maka kami segera melanjutkan perjalanan. Berbekal saran pendaki lain, kami memutuskan menginap di Lembah Kidang. Sesampainya di Lembah Kidang, ada rombongan dari GEOPALA UNESA yang bersiap turun. Dari mengobrol dengan mereka, kudapat informasi bahwa biasanya dibutuhkan waktu 6 jam menuju puncak dan 4 jam untuk turunnya. Karena itu, kami berencana berangkat jam 12 malam dengan harapan jam 6 pagi sampai puncak dan melihat sun rise. Setelah makan dan sholat kami segera tidur dan menyiapkan alarm untuk membangunkan kami jam setengah 12 malam.
          Entah karena capek atau kenapa, saya terbangun sudah jam 1 pagi. Alarm kami seperti gak ada artinya. Segera ku bersiap dan membangunkan teman-teman. Sambil menunggu temen-temen bersiap, saya makan nasi sisa tadi sore untuk menghilangkan lapar.
          Dan, jam 2 pagi kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Arjuno.

Friday, 25 April 2014

Puncak Mahameru, Kuantarkan Saudaraku Padamu


Oleh: M. Junianto Tri G
                Angin bertiup perlahan mengintip tenda. Samar kudengar teman-teman memanggilku. Kubuka mata dan segera keluar tenda, mencari tau apa yang terjadi. Oh, ternyata mereka sudah siap melanjutkan pendakian, tak sepertiku dan rekan se-tenda-ku yang Masih berkelana dalam mimpi. Aku Masuk kembali dalam tenda. Membangunkan rekan setenda yang Masih juga terlelap. Sembari menunggu mereka mengumpulkan kesadaran, aku bersiap lebih dulu. Perlengkapan sudah aku siapkan sebelum tidur tadi. Jadi sekarang aku tinggal memakainya. Kaos kaki dua lapis, celana tiga lapis, baju tiga lapis, sarung tangan, dan penutup kepala, dan sebuah kain putih yang kukalungkan sebagai syal. Oke siap. Oh iya, Senter. Berjalan malam di pegunungan yang gelap bisa kesusahan kalau tanpa alat penerangan yang satu itu.
                Sesaat kemudian teman setenda sudah siap dan beranjak keluar tenda. Aku mengikuti dibelakang mereka. Tapi aku masuk ke tenda lagi. Ada sesuatu yang tertinggal. Sesuatu yang mmembuatku berada disini. Sesuatu yang mendorong langkahku, dan menjadi tekat kenapa aku harus sampai puncak Mahameru. Kuambil benda itu dan kuselipkan dalam bajuku.
                Saat bulan mulai tergelincir dari puncaknya, kami memulai perjalanan. Cahaya bulan membuat kami berhemat batrai senter. Tapi setelah memasuki hutan, senter mutlak diperlukan. Disini cahaya bulan hanya sesekali menembus dedaunan.
                Semakin lama, tenaga semakin terkuras. Beberapa kali kami beristirahat, menata tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Tak lama kami sampai di Arcopodo. Disana ada beberapa tenda yang sudah ditinggal pendakinya ke puncak. Tak terbayang bagaimana sulitnya membawa perlengkapan pendakian sampai di Arcopodo ini. Kami yang cuma membawa perbekalan aja kelelahan, apalagi mereka yang membawa perlengkapan yang sudah pasti tak ringan itu.
                Selepas Arcopodo, kami menemukan beberapa bangunan "in memoriam" (entah apa sebutannya). Disitu tertulis beberapa nama pendaki yang gugur ketika mendaki Semeru. Ada yang meninggal karena kedinginan, jatuh ke jurang, dan ada juga yang meninggal karena menghirup gas beracun. Rekan mereka mengabadikan kepergian mereka dalam bentuk bangunan-bangunan kecil itu.
                Sekitar jam setengah dua pagi, kami sampai di Cemoro Tunggal. Konon disini dulu ada satu pohon cemara besar. Sayang sudah tumbang oleh longsoran pasir gunung Semeru. Cemoro Tunggal adalah batas vegetasi terakhir. Selepasnya, tinggal gundukan gunung pasir. Dan disitulah kekuatan pendaki benar-benar diuji. Bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan tekad untuk sampai puncak yang sudah di depan mata.
                Gundukan pasir yang tidak kokoh membuat langkah seolah percuma. Naik tiga langkah, merosot satu langkah. Begitu seterusnya. Kata orang, jarak Cemoro Tunggal ke puncak sekitar dua kilometer. Tapi dua kilometer dengan kemiringan medan dan pasir yang labil itu terasa semakain jauh. Sering lelah menyapa. Tetapi barang yang kuselipkan ke dalam bajuku tadi seolah kembali menyemangati. Begitu seterusnya.
                Hingga matahari terbit, kami baru sampai di tengah perjalanan. Rombongan kami tinggal tujuh orang. Selebihnya sudah mendahului kami sejak selepas cemoro tunggal tadi. Kami bertujuh adalah lima orang angkatan 2012, dan dua orang senior angkatan 2009.
                Disinilah kesetiaan benar-benar diuji. Maklum, temanku yang badannya agak berisi sudah mulai kecapekkan. Kami yang hemat berat badan saja capek, apalagi dia. Sebenarnya bisa saja kami duluan menuju puncak. Tapi rasa persaudaraan yang kupelajari mengurungkan niat ke-tidak-setia-kawan-an-ku. Setapak demi setapak kami lalui. Waktu itu teman-teman kusuruh untuk duluan, meninggalkan kami berdua, tetapi mereka enggan. Disinilah aku merasakan persahabatan yang pernah hilang dibawa sahabatku dalam maut. Sahabat yang telah mendahuluiku. Sahabat yang membuatku disini saat ini. Sahabat yang mengharuskanku mencapai puncak Mahameru.
                Semakin terik, beberapa pendaki sudah mulai berturunan. "Semangat Mbak, Mas, tinggal dikit lagi!". kata-kata motivasi itu sering kami dengar. Aku mulai bosan dengan kata-kata itu. Dalam keputusasaan, kubuka bajuku. Kukeluarkan sebuah foto dari dalam bajuku. Kupandangi foto itu. Aku Berdiri lari keatas, sejenak lupa 6 teman yang bersamaku. Ah iya. Aku berhenti, menunggu mereka. Dalam hati aku bergumam: "Saudaraku, kalau nanti aku tidak sampai puncak, tolong maafkan aku. Bukankah kesetiakawanan lebih penting dari puncak yang di depan mata itu? Ya. pasti kau berfikiran sama". Kupandangi foto tadi. Aku tersenyum. Sejenak beristirahat sambil menikmati pemandangan yang begitu indahnya. Kami berada diatas awan. Dari sini, kami dapat melihat deretan gunung dengan jelas. Ada gunung Bromo, gunung Penanggungan, gunung Arjuno, semua terlihat jelas.
***
                9.15 pagi.
                Kami sampai puncak. Walau kabut menyelimuti, kami tetap menikmati. Disini sudah sepi. Para pendaki yang lain sudah turun. Tinggal kami yang menikmati puncak. Berbagai ekspresi kami lakukan sebagai kegembiraan. Ada yang sujud syukur, berfoto-foto, dan ada pula yang "menandai wilayah".
                Aku segera buka jaket dan bajuku. Ku ambil Foto yang dari tadi kubawa. Segera aku minta difoto oleh temanku. Disamping tulisan 3676 mdpl, aku berfoto menenteng foto sahabat kesayanganku dan sebuah kertas bertuliskan: "Galih Grahandi Putra di Mahameru". Ya. Sebelum tiada, ia sempat ingin mendaki sampai puncak Mahameru. Dan pendakianku ini kudedikasikan buatnya.
                Air mata sudah mengintip dari balik kelopak. Aku menahannya. Karena aku harus kuat untuk terus tersenyum dan berucap:
                "Selamat tidur, Saudaraku :)"

Aku, fotomu, dan mahameru.

Disamping kibaran bendera Merah Putih

3676 mdpl puncak Mahameru

Begini nih kalo gak bisa bawa orangnya.
cuma bisa bawa fotonya aja :)