Tuesday, 3 March 2015

Menuju Merbabu dari Surabaya, Februari 2015




          Imlek tahun ini bertepatan dengan 19 Februari 2015. Kebetulan itu hari kamis dan jumat aku tidak ada kuliah. Maka ketika ada ajakan dari temen buat naik Merbabu-Merapi, aku langsung mengiyakan. Sayang, merapi saat itu menutup jalur pendakiannya sampai 16 Maret 2015. Katanya untuk pemulihan ekosistem dan menghindarkan pendaki dari badai. Tapi pendakiaan harus tetap berjalan. Maka merbabu saja juga tak apa.
          Merbabu menjadi salah satu tujuan pendakianku selain Rinjani di Lombok dan Argopuro di Situbondo-Jember, Jawa Timur. Keasrian alam, indah senja, dan matahari terbit menjadi daya tariknya. Terutama senja yang seperti ini:

Karena selama ini pendakianku memburu matahari terbit dan sering gagal, maka kali ini aku ingin memburu senja di Merbabu. Guratan kemerahan di horison barat telah membuatku ingin segera sampai.
          Gunung Merbabu merupakan gunung api tidak aktif. Namun begitu masih memiliki 5 kawah yang aktif mengeluarkan bau belerang. Gunung ini memiliki beberapa puncak, diantaranya adalah Puncak Syarif, puncak Kenteng Songo, dan Puncak Triangulasi. Ketiganya berada pada ketinggian diatas tiga ribu meter diatas permukaan laut.
          Setelah semua anggota tim berkumpul pada kontrakan mas ari dan mas yonda, kami bertujuh berangkat ke terminal Purabaya, Sidoarjo untuk memulai perjalanan menuju barat. Diketuai oleh Mas Yonda dan Mas Ari perjalanan ini dimulai dengan naik bis Sumber Group yang terkenal sebagai jet daratnya Surabaya-Jogjakarta. Bus melaju meninggalkan terminal Purabaya jam 12 malam hari Rabu 18 Februari dan sampai di terminal Tirtonadi Solo sebelum jam 4.30 kamis 19 Februari pagi hari. Kurang dari 4,5 jam untuk menempuh Surabaya-Solo pada dini hari. Jarak tempuh panjang dalam waktu singkat, pada jalur yang tidak sepenuhnya lurus, membuat Bahrul, teman pendakian kami beberapa kali kepalanya terjedot kaca samping Bus. Hahaha.
          Pendakian kali ini total 7 orang. Mas Yonda, Mas Jos, Mas Ari, Mas Hamdan, Ayub, Bahrul, dan aku. Kamu semua satu jurusan kuliah di Kimia ITS. Berangkat ke merbabu kali ini selain untuk berburu senja, juga untuk melantik Bahrul sebagai ketua CAS (Chemistry Adventure Society) yang baru.
          Setelah sampai di Tirtonadi Solo, kami melanjutkan perjalanan dengan Bus P.O Raya jurusan Solo-Semarang. Kami turun di perempatan pasar sapi, Salatiga. Selanjutnya kami mencharter kendaraan untuk sampai ke sekitar basecamp pendakian Merbabu di Dusun kedakan, Wekas.
Mas Jos, Mas Ari, Bahrul, Ayub, Mas Yonda, Mas Hamdan, dan Aku. Di perbatasan Taman Nasional Gunung Merbabu.

Monday, 23 February 2015

Pesona Senja Merbabu

Naik gunung Merbabu merupakan "kewajiban" bagi para pemburu senja di gunung. Termasuk saya yang mulai menyukai senja di ketinggian. berharap mendapat gambar seperti ini:

sayangnya yang menyambut justru hujan dan kelabu kabutnya. Entahlah, mungkin jadwal pendakianny yang gak tepat. Aku kesana 19-20 Februari 2015 kemarin, mumpung libur imlek. Disana 2 hari itu hujan. Sedikit cerah pada pagi, hahaha.

MAULUDAN




Tanggal 03 januari 2015 kemarin bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awal 1436 Hijriah. Bagi umat islam, 12 Rabi’ul Awal diperingati sebagai maulid nabi besar, nabi Muhammad SAW. Hal itu merujuk pada hari lahir beliau, yakni 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah. Disebut tahun gajah karena pada tahun tersebut terdapat penyerangan terhadap ka’bah oleh pasukan bergajah.
Maulid nabi Muhammad diperingati dengan berbagai cara. Biasanya dengan pembacaan shalawat nabi di mushola-mushola. Beberapa tempat bahkan mengadakan pengajian umum dan mendatangkan pendakwah favorit warga. Namun begitu, ada beberapa tempat yang memeringati maulid dengan cara yang “berbeda”.
Di kampungku, desa Ngerdani kecamatan Dongko kabupaten trenggalek, “muludan” (begitu kami menamai) diperingati dengan makan bersama di mushola setempat. Jama’ah mushola membawa baskom besar berisi nasi ditumpangi ayam panggang hampir utuh diatasnya. Satu keluarga membawa satu ambeng tersebut. Acara digelar ba’da maghrib di teras mushola. Setelah semua berkumpul dan pemuka adat menyampaikan beberapa “mantra”, tibalah saat yang menyenangkan, makan bersama. Ayam-ayam panggang tersebut dipotong dan dibagikan bersama sepincuk nasi. Kebersamaan yang menghangatkan seperti inilah yang selalu aku rindukan saat diluar sana.

Monday, 5 January 2015

Review Tas:Slempang, Daypack, Carier



Buat kalian yang suka bermain ke alam, pastinya gak asing dengan alat-alat outdoor seperti tas, sleeping bag, matras, dan lain-lain. Ngomongin tas, ada tiga macam tas yang biasa dipake anak alam. Nih cek ringkasannya:
1.Tas Slempang Kecil
Yang pertama adalah tas slempang kecil buat wadah barang-barang kecil seperti hp, dompet, kamera, charger, atau mungkin peta. Menaruh barang-barang penting pada tas kecil mengecilkan kemungkinan jatuh dan hilang, karena alam cukup merepotkan kalo kita kurang persiapan. Bisa juga dipake buat hangout biar gak ribet naruh dompet di saku belakang yang pasti ngganjel pas buat duduk. Haha.
2.Daypack
Yang kedua adalah tas daypack ato tas yang bisa dipake buat kegiatan sehari-hari. Tapi buat dibawa ke alam, kusarankan gak sembarang daypack. Kalo sembarangan, bisa-bisa cepet rusak dan bakal repot kalo rusak pas di alam. Gak ada tukang jahit bro. Haha. Jadi kudu daypack yang kamu yakini kuat. Kalo mau nyari yang terjamin, beberapa merk perlengkaan outdoor jual tas daypack juga kok. Biasanya dibagian belakang terdapat rangka besi yang menjaga tas tetap tegak walaupun berisi beban yang padat. Hal itu membuat badan nyaman dan tidak mudah capek. Juga untuk menghindari tidak meratanya beban di tas.
3.Carrier/Ruksack
Nah yang ketiga carrier. Biasa dipakai oleh pendaki gunung atau traveller alam dengan durasi dan destinasi yang lebih dari satu. Carrier ada berbagai bentuk dan ukuran. Bentuk dasarnya memanjang ke atas, tapi beberapa model ada kantong belakang dan sampingnya, membedakan dengan carrier yang lain. Kapasitas carrier terkecil adalah 60 liter, sedangkan kapasitas terbesar mencapai 100 liter. Keterampilan menggunakan carrier merupakan seni tersendiri dalam berpetualang.